Kalo sedang jatuh cinta….

Imij didizain oleh ndöp™ featuring mbah buyut korel dro.. makasih ya mbah buyut, atas tul-tulnya yang yuzer frendli.. mmmuuuahh… buat mbah buyut korel dro dah! :kiss:

Dia bangun jam setengah lima pagi (atau mungkin lebih pagi lagi!). Dia membuka pintu kamar tidurku. ”Buk, tangi, tak gawekno kopi lo..”
Ibukku mak glepak-glepak molet dan ngriyip-ngriyip terbangun dari tidurnya. Saya juga ikut-ikutan bangun. (Loh ndop, kamu tidur bareng ibukmu ya? Hayoooo… ngaku….. hehehe.. iya, tidur bertiga, sama adikku juga.. hehehe… PUAS??? :mad: )

Empat jam sebelumnya, dia sedang asyik ditelpon (atau menelpon) kekasih barunya.. dia begitu bersemangat, dia begitu riang, walau aku tidak melihat wajahnya, tapi aku tahu kalo wajahnya sekarang sedang berkilau riang. Dia mengobrol apa aja yang ada di otaknya. Dan obrolannya, kalo disimak-simak dengan seksama dan dalam tempo yang dibacem (tempe kale!!), sangat menjemukan dan bikin kabur aja. Sangat membosankan, sangat nanggung pokoknya. Mending liat acara emakmia di indosiar yang diputar sepanjang masa itu. Yang dari magrib sampai pagi nggak selesai-selesai.

Kira-kira sejam lebih dia tilpun-tilpunan dengan yayangnya. Lalu dia tidur dengan sangat pulas sambil senyum merekah. Atau mungkin hanya matanya yang merem, tapi otaknya masih aktif. Otaknya masih login, belum logout kayak matanya. Mungkin otaknya login di wordpress, lha matanya login di Blogspot, makanya merem duluan… hehehe… :lol:

Lalu dia terbangun pagi-pagi buta sekali. Benar-benar bangun dua jam lebih cepat dari biasanya. Lalu membuatkan kopi untuk ibunya. (aku kok ndak dibuatkan ya??? :wink: )

Aku lihat wajahnya selalu sumringah. Aku yakin kalo saya minta duit pada saat itu pasti dikasih. Tapi saya tidak tega. Saya ndak mau menggunakan kesempatan dalam kesempitan ini.. ndak etis kayaknya.

Pagi itu, sambil menyemprotkan parfum, sambil menggeh-menggeh bernafas karena kedinginan, dia bernyanyi-nyanyi lagunya Afgan, ”Terima kasih cinta.. untuk selamanya… ”
”Salah Mas, sing bener untuk segalanya..” saya yang terbangun gara-gara mendengar lirik yang salah langsung membenarkan.
”Oh.. iyo, untuk segalanya…” masku menjawab.

Sepulang dari kerja, masku yang masih tampak sumringah, menyanyi lagi, ”Terima kasih cinta.. untuk selamanya…”
”Untuk segalanya…. ” saya membenarkan liriknya, membenarkan nadanya, membenarkan feelnya.. maklum saya khan jebolan audisi Indonesyen aideul.. :P .Lalu dia berangkat kerja lagi ke tempat kerja yang satunya. Biyuh-biyuh, workaholik juga ya…
Beberapa jam setelahnya, dia tiba di rumah, nyanyi lagi, ”Terima kasih cinta… untuk selamanya…” kali ini saya diam saja, walau kuping ini uring-uringan mendengar lirik yang salah… tapi berapa kalipun saya betulkan, dia akan mengulangi lagi kesalahannya. Dia sekarang sedang tidak fokus, pikirannya tidak ke saya. Tidak pula di rumah. Tapi di hati kekasih baru yang digilainya… wowowo… seperti itu kah dahsyatnya cinta??
Malam harinya, dia tiba-tiba menyodorkan duit ke saya limaribu. Saya bengong. Lalu dia bilang, ”Luwe gak? tukuo mangan. loro. ndang saiki. Aku selak luwe…” lalu dia nyanyi ”terimakasih cinta” lagi, juga masih dengan lirik ”untuk selamanya”. Tuh kan, apa saya bilang… :wink:
Ndak papa wis, aku suka dalam posisi seperti ini. Posisi di mana masku sedang jatuh cinta. Dia jadi bersemangat. Dia jadi bangun pagi. Dia jadi murah senyum, murah rejeki, murah penyantunan ke khalayak miskin seperti saya… hehehe… :mrgreen:

41 Comments

Komen dong!