Dipisuhi Pada Jarak 30 cm!!!

Dari kejauhan saya melihat lampu di atas bis yang bertuliskan ”Sumber Kencono”. Aku langsung saja berdiri dan menggerak-gerakkan telunjuk saya ke depan. Sebelum itu, seperempat jam saya dengan angkuhnya gak ngrewes (memperhatikan, red.) bis-bis yang mengemis untuk saya tumpangi, ”Sorri ya, bismu itu nggak kamftebel buat kaki saya, pergi sono cepetan!! Apa nunggu saya usir??” Begitulah kira-kira ekspresi yang terlihat di mimik wajah saya. dasar kejem MODE ON!!! :siul:

Langsung deh, dik wartawan yang bernama Jiwa Bersih Saya alias Wasih, langsung mewawancarai secara eksklusif kepada Jiwa Kotor Saya alias Jiko. Inilah sepenggal kepala eh, wawancara tersebut:

“Permisi Mas Jiko, boleh wawancara sebentar?” kata Wasih sambil menyodorkan maikroufoun ke mulut Jiko. Menyadari ada maikrofoun berada tepat di depan mulutnya, si Jiko bukannya mengiyakan, tapi malah menyanyi…

“Terima Kasih Cinta… untuk Selamanya….,” doohh… mana liriknya salah lagi! :doh:

Wasih menutup kuping pakek microphone sama bulpen, ”Loh, Mas Jiko kok malah nyanyi to, Mas?!”

“Hehehe.. mangap, udah replek. :hihi: saya kagak nahan kalo ada maik, ya.. maklumlah obsesi jadi Aideul Endonesa.”

Perut Wasih tiba-tiba muneg-muneg.. :muntah:

“Oke, oke, sekarang mau wawancara apa dengan saya?” sambil membenarkan letak kacamata yang dari tadi melorot.
“Begini Mas Jiko, kenapa Mas Jiko tadi milih-milih bis, khan ke’nya sama aja tuh??”

“Ya beda dong, Sih. Bis yang lain itu nggak kamftebel dengan kaki saya” *Cintca Lora MODE ON*

“Nggak comfortable pegimane??”

“Haiyah, kok pakek nanya. Saya itu maunya pakek sambel. Biar pedes. Eh, lha kok ote-ote ini pembicaraan saya. :doh: sorri.. sorri ya dik Jiwa Bersih, maklum perut saya emang sedang laper. Belum ke isi sejak seminggu yang lalu. :bohong: FYI alias Fe Ye Infemeisyen, kaki saya itu semeter lebih. Makanya musti nyari bis yang taraf inteneisyenel.”

:shock: Semeter lebeh?!!

“Kalo boleh tahu, Mas Jiko, mangsudnya taraf international itu yang kayak apa to?”

Jiko alias Jiwa Kotor sebel :garuk: ,”Doooh… dik Wasih ini banyak nanya. Dasar GOBIS! goblok ra uwis-uwis (goblok tiada akhir!, red.). Begini lo Dik, Bis yang tidak bertaraf inteNEIsyenel itu hanya khususon orang INdeNEisya saja. Orang-orang bule seperti saya yang tinggi ini ndak bakalan pas.”

Muntah untuk kedua kalinya :muntah: ,”Pas.. pas pegimane mangsudnya?”

“Tuh khan, nanya melulu.. ini nih.. ini!,” sambil menutuk-nutuk dengkul pakek telunjuk tangan kiri, “Dengkul saya ini ndak bisa selonjor, musti ditekuk. Selama tiga jam. Kadang lebih. Apa itu bukan NERAKA JAHANAM BIN SUPER RIBETWATI BINTI AMINAH namanya??”

:hihi: Mas Jiko ini ngomong apa sih? :roll:
“Oo… begitu ya… ya sudah mas, sorri ngganggu waktu anda… ”

“Ya sudah, sono pergi.. ” :angop:

********

Bis itu berhenti dengan perlambatan konstan… (halah, opo iki?? :roll: ).
’tap’ saya meloncat ke atas bis..

Ketika berada di ujung pintu, sambil menahan gaya kelembaman tubuh saya.. (halah, opo maneh iki?? :doh: ), aku melihat ke dalam bis. Semua hitam pekat. Yang bisa saya pastikan adalah bahwa di dalam sini penuh dengan orang.
Yaiyyalah.. masak alien. :alien: Ye.. yaiyyalah.. masak yaiyadong.. Mulan Jami lah… masak Mulan Jami dong. Yee.. kedon lah.. masak Kedon dong.

Aku punya lagi, Odong O lah.. masak Odong O dong. Yeee… Maksa itu. Ini lo yang nggak maksa, bola ping lah.. Masak Bola ping dong!! Eh, lebih maksa ya… :pukul:

Saya bisa mencium baunya orang. Iya, di dalam sini pasti banyak orang. Saya yakin seratus persen. :doh:
“Aduh, ” Kaki saya terinjak. :sakit:

Mau saya lihat berdarah apa tidak, ndak kelihatan, item. Mau saya lihat apakah sudah melebar ke samping, tetep tidak kelihatan, masih hitam. Kemudian mataku bergerilya mencari tempat duduk.

Tuk!

Bunyi apa itu? Ternyata-e-ternyata, dengkulku menghantam dengkulnya orang lain. Halah, itu normal lah kalo di keadaan sempit seperti ini. :halah:

Bus tiba-tiba nyeleat-nyeleot. Saya, dengan verri jentli, memegang dengkulnya orang itu buat pegangan, ”Nyuwun sewu, Pak.” (permisi, red.)

Bus tiba-tiba ngerim. Saya langsung terhuyung-huyung mau jatuh. Para penduduk bis pada mlorot ke kiri. Pada posisi melorot seperti itu, ada sedikit sisa tempat duduk yang pas buat saya duduki. Langsung tanpa komando saya duduki saja. Tapi…

Taiming saya kurang cepat. Alhasil, tepat ketika saya mau duduk, Bapak yang tadinya melorot ke kiri sudah kembali ke posisi semula. Jadinya, saya tidak jadi menduduki kursi, melainkan MENDUDUKI PUNGGUNG Bapaknya!!! O Mai Gaaad!!!

Si Bapak itu terdesak ke kiri secara paksa oleh tubuh saya. dan….

Saya mendapatkan hadiah berupa PISUHAN KOMBO MAHA DAHSYAT BIN AJAIB BINTI AMINAH NGANJUKWATI…!!!
“d a n C * * * K . . . !!!” (penekanan ekstrim pada C***K)

Berhenti sejenak, menunggu taiming yang tepat.

”KONT**LLL!!! (penekanan ekstrim pada T**LLL)

Akhirnya jurus kombo itu pun telah terejakulasi keluar dengan sempurna dengan pich kentreul yang fasih.

Saya langsung…

:mad:
:shock:
:rolleyes:
:hipnotis:
:sakit:
:muntah:
:tengkorak:
:frustasi:

Bagai tersambar petir mendengar pisuhan kombo itu pada jarak satu penggaris tiga puluh sentimeter. Saya yang semula tidak merasakan jantung saya berdenyut, kali ini saya merasakan sakitnya. Dada juga mendadak sesek. Aliran darah langsung naik ke ubun-ubun. Pindah ke unyeng-unyeng. Nafas jadi lebih cepat. Hawa adem, lalu panas, lalu adem lagi… :sakit:

Merenung… :nglamun:

Salah saya apa?? :frustasi:

Aku otomatis tidak berani melihat orang itu :takut:

Tiba-tiba saja orang itu seperti berubah menjadi Iblis berambut ular yang n dak boleh dilihat mukanya.. :evil:
Tapi secara diam-diam saya melirik muka orang itu di belakang punggung saya. bapak itu sedang menutup mukanya pakek telapak tangan kanan. Mungkin bapaknya tadi khilaf telah berbuat sesuatu yang memalukan. Secara di dalam bis yang penuh sesak itu, pastinya nggak sedikit orang yang mendengar umpatannya. Makanya bapaknya tadi malu dan bingung mau nglempit mukanya.

Lha saya sedang ndak bawa seterika, jadinya mau menyetrika mukanya bapak biar rata dan bisa dilipat pun tidak kesampaian…

Lalu saya berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa… Ya Tuhan.. Ampunilah dosa saya dan dosa bapaknya tadi… amiin… :doa:

Saya menunggu reaksi dari doa tersebut. :menunggu:

Denger-denger doa orang teraniaya khan gampang terkabul, lha saya ini dalam posisi teraniaya kan sodara-sodara?? Betul toh? Mbok ya dibetulkan saja… :taktahu:

Masih menunggu reaksi doa.. :menunggu: bus sumber kencono masih berakrobat-akrobat dengan gaya-gayanya yang ekstrim. Yang kita-kita, para penumpang yang arif dan budiman (kecuali Bapak yang tadi), jadi ikut-ikutan asyik digoyang sana, digoyang sini. Pegangan sana, pegangan sini. Nginjek kakinya orang sana, nginjek kakinya orang sini.. Pisuhan kombo sana, pisuhan kombo sini.

Bus Restu yang tadi saya cuekin pun sekarang sudah disalib (didahului, red.). Tuh kan bener dugaanku, bus Sumber Kencono memang pantas dibanggakan!! (semoga ada pak direktur yang punya perusahaan bus Sumber Kencono yang baca blog ini dan saya dikasih gratisan setahun naik busnya.. hehehe.. *ngarep MODE ON* :doa: )

Akhirnya.. tanpa tanda-tanda, doa itu pun terkabul. Bapaknya yang tadi misah-misuh di depan muka saya itu, yang untungnya nggak pakek cipratan air mulut itu, hapenya berbunyi. Sang bojo (istri, red) ternyata menelepon. Dan mukanya yang sudah terlipat separu itu pun mulai membuka. Mukanya yang semula rata, sekarang menggelembung lagi satu persatu. Mulai hidung, mata, pipi, mulut… dan si bapak pun jadi sumringah bin senangwati permatasari.

Dan apa yang terjadi selanjutnya? Setelah mukanya sumringah bin gembiraloka kurniawan itu, tiba-tiba, orang di sampingnya, yang duduk di kursi resmi paling depan, mau turun. Alhasil, setelah turun, Bapaknya tadi sekarang duduk nyaman di kursi paling depan tersebut. Akhirnya saya pun dengan sangat lega menggeser posisi saya yang duduknya mucuk (ujung, red.), menjadi agak ke dalam dan tidak khawatir kejungkel (terhuyung ke depan, red.) lagi kalo tiba-tiba bus nyleot atau ngerim mendadak.

Doa saya kepada bapak sudah terkabul. Sekarang menunggu doa saya sendiri. :menunggu:
Dan tanpa tanda-tanda juga, manusia-manusia di dalam bus mulai pada mo turun. Orang-orang yang tadi berdiri menggelantung sekarang sudah pada duduk di tempat resmi.

Sampai akhirnya saya bisa melihat pak kondektur yang berdiri di pintu belakang sono yang manggil-manggil saya sambil mengawe-awe. ”Belakang kosong, Mas!!”

Yah, akhirnya bos… doaku terkabul juga..

Saya sekarang duduk di kursi belakang sendiri. Masnya di sebelah saya menyalakan rokok. Saya melirik. Saya kayaknya mau ditawari rokok nih. Waduh, siap-siap nolak nih. Pas dia mau nawari, saya ndak jadi nolak. Karena yang ada di atas telapak tangannya itu adalah permen frutela ungu. Tanpa basa-basi langsung kucomot satu.

Kok masnya tahu ya, saya ndak ngerokok? Mungkin dia melihat muka saya yang halus dan kencang ini kali. *membelai-belai muka pakek punggung telapak tangan* :muntah:

Mmm… rasa kecut (asem, red.) nya menghancurkan pundi-pundi dongkol saya. Perasaan saya pun plong..

Angin berhembus sejuk menerjang pelan ke rambut poniku. Membuka poniku ke atas. Memperlihatkan jerawat yang kusembunyikan dengan sempurna di balik poni. Aduuh.. itu semua gara-gara pembersih muka saya sudah lama tidak saya isi ulang dengan belerang dan minyak tanah. Lha, minyak tanah sekarang mahal toh?

Angin sejuk itu juga membuka rahasia bahwa saya ndak punya alis sebelah kiri setelah beberapa saat lalu salah kerik jenggot. :doh:

Dan setelah menulis bab poni di atas, hidung saya bertambah panjang :bohong: …

Dan tulisan saya semakin ote-ote saja…

Ya sudah pemirsa kita sudah ada di penghujung acara.. terimakasih atas perhatiannya.. dukung terus Vita KDI Nganjuk. Dengan cara ketik KDI spasi VITA kirim ke nam dua lapan-lapan…kirim yang banyak ya… :ayoh:

*OOT semakin tidak terkendali* :pukul:
:ayoh:
:kabur:

56 Comments

Komen dong!