Warung Pecel Mbok Iro

Selera Pedas only!!!

warung pecel mbok iro

Kalau kamu-kamu pada demen ama yang namanya pedes, segopecel mbok Iro lah solusinya. Warung nasi pecel yang berada di jalan Ahmad Dahlan Nganjuk kota itu memang benar-benar dahsyat!! Pedes banget!! Sampai-sampai congor (mulut, red.) ini mbrebes mili setelah memakannya… mmm…. Huuuhh… haaaahhh!!!! tesss… tess…. tes….

Sangat simpel hidangan pecelnya. Tapi justru karena simpel itu makanya rasanya istimewa. Catatan saya, kalau sebuah hidangan itu isinya macem-macem, hal itu pertanda ada yang kurang maksimal dari rasa bumbunya. Hnnah, di warung ini, yang dihidangkan cuma kulup (dedaunan kayak daun singkong, daun pepaya, kangkung, dll, red.), capar (kecambah, red.), sambal pecel, sampal tumpang, lamtoro (petai cina, red.), nasi, peyek (rempeyek, red.) teri, peyek kacang, kerupuk. Dihidangkan di atas pincuk daun pisang yang menambah aroma sedep (sedap, red.)-nya… mmm….

Mbak Sri, yang selalu memakai kerudung item itu dengan sabarnya mengedoli (melayani, red.) para pembeli yang kadang sampai bejibun itu. Apalagi pas Minggu-minggu, pasti banyak sekali yang beli. Secara di depannya ada Bethani Family, yang sering nyanyi-nyanyi lagu gereja. Makanya untuk mempersiapkan stamina dan energi untuk menyanyi, segopecel Mbok Iro lah solusinya.

mbak nurul fauziyah makan nasi pecel mbok Iro

“Sambele sekedik mawon, mbak,” pinta seorang pembeli. Kalau sudah begitu, pertanda pembeli itu nggak doyan pedes. Atau malu kalau mulutnya nanti mbrebes mili. Kalau urusan pedes, mungkin ada juga yang sama pedesnya dengan Mbok Iro, tapi kalau urusan sedep, mungkin Mbok Irolah is nambe wan.

Oh iya, Mbok Iro itu nama penjual pertama yang juga ibu kandung Mbak Sri. Beliau sudah meninggal. Jadi anaknya mengambil alih tugas. Anehnya, rasanya tetep enak, pedes dan gurih walau yang dodol sudah ganti. Mungkin ada semacam ritual pewarisan ilmu kayak di silat-silat di tipi itu kali yah?? Ndak tahu aku…

Kalau anda-anda yang di luar kota, luar provinsi, bahkan yang di luar negeri kepingin nyobain, datang aja langsung ke rumah gue. Ntar tak antar ke TKP (baca: lokasi). Bukanya pagi-pagi sekali sampai habis dagangan. Kira-kira ya jam setengah sebelas tutupnya. Tapi jangan beli siang-siang, soalnya Mbak Sri menjual pecelnya sampai habis-habisan. Maksudnya, kalau kulup sudah habis, sementara caparnya masih, dia akan tetep jualan. Walau nanti yang beli dibilangin, “Kantun capar mawon niku, kerso??

Ayo.. ayo… dicoba pecelnya…. !!
Murah kok. Nasi pecel, seribu limaratus dampai duaribu rupiah saja. Pecel, alias pakek nasi sendiri di rumah, cuma serebu doang. Tunggu apa lagi.. cepetan nyoba!! Sebelum Mbak Srinya mutung nggak jualan pecel lagi dan beralih profesi buka konter hape kayak sodaranya di sebelah warungnya itu.

13 Comments

Komen dong!