The New Look of My Bike

Bener nggak bahasa Inggrisnya?? Aduh, jadi malu kalau Englishnya masih pre intermediate (versi UPT Bahasa ITS). Tapi yang jelas, aku nggak perlu malu kalau urusan menyentrikkan penampilan sepedaku.

Dengan kuas 500 rupiah, 2 cat Radja Lux 2800 perak dan 1800 rupiah, sepedaku kusulap menjadi wajah baru. Mengkilap euy!! With the black and shiny green, just looks more fresh!! Menurut saya.

Ketika mengecetnya, ada yang nyeletuk, “Disemprot!!”
Aku pun menjawabnya asal, “Seneng manual, lebih nyeni!”
Padahal, menguas adalah trik menghemat cat. Bayangin kalau disemprot, pasti banyak yang terbuang di udara, di lantai, dan hanya akan menambah repot. Juga nggak mungkin bisa cuma habis cet seharga 2.800 rupiah kalau pakek semprotan. Emang kayaknya lebih lama kalau dikuas. Padahal justru lebih cepat. Karena nggak perlu pakek acara nyopot-nyopot ban, gir, dll. Cukup dikuas sret-sret-sret, beres deh.!!! Cuman, musti pinter ngecat aja. Minimal pengalaman 1 tahun di bidangnya. Hehehe… nggak segitunya kallee…

Untung cetnya cepet kering. Karena kalau nggak, bisa nggak sepedahan seharian dong. Mana tahaan…! soalnya khan lagi musim hujan. Alhasil, besok paginya aku sudah siap untuk loncing perdana sepedaku with the new look. Muter-muter Gedung Juang, Alun-alun dan Perkotaan A.Yani. lumayan disambut lo. Disambut dengan cuek. Hehehe…

Sebelum loncing, pemakaian perdanaku adalah ke warung pecel Mbok Iro.. maklum, Idul Adha kali ini lumayan banyak yang berbaik hati mengirimkan daging ke rumah. So, makananku 3 kali sehari adalah daging kambing dan sapi. Dan hasilnya, aku pun kadang kebanyakan daging dan tiba-tiba pusing. Makanya, pagi itu aku memutuskan untuk menetralisir makananku selama Idul Adha. Dengan membeli pecel super sedep dan super pedes di Warung Mbok Iro. Warung Mbok Iro adalah my best pecel taste in the world eva. Suedep pol-polan. Bagi u u yang demen pedes dan demen pecel, kayaknya kudu nyicipin pecelnya Mbok Iro. Apalagi bungkusnya yang masih pakek daun pisang.. Aduuuh aromanya… ajiib…ajiiib…

Eh, ngobrolnya kok jadi ke mana-mana… kita kembali ke jalan lurus…

Oiya, sekedar informasi aja ya. Sepedaku yang dulu cetnya norak sekali. Masak bayangannya biru dongker metalik, trus slebornya ijo ama kuning. Setirnya kuning, girnya ijo, pedalnya kuning. Pokoknya kayak permen. Terlalu meriah. Pernah ada teman yang nyeletuk, “Ndop, awakmu arep melok pedah hias to?? Kok ijo kuning ngono!”

Makanya sekarang aku ganti temanya. Lebih dark with a lil bit shiny green di peleknya. Aku harap sih lebih ai cetchi. Pas beli cetnya di Toko Mulur, pengennya dark combining with shiny pink. Tapi kok girly, akhirnya aku muter otak…dan cling!! Ijo kayaknya oke deh!! Khan, musim global warming kayak sekarang, pada nggalakin penghijauan. Trus warna itemnya identik dengan polusi udara dan pencemaran air. Waah..klop banget!

Aku sudah menyiapkan jadwal road show loncing sepedaku itu. Dan pertama yang musti wajib dikunjungi adalah Kuncir. Untuk menuju Kuncir memang perlu perjuangan. Soalnya sudah masuk kawasan dataran tinggi. Secara di situ memang pegunungan. Kemudian rute selanjutnya adalah keliling kota Nganjuk. Macak nang toko, padahal nggak beli apa-apa. Pergi ke distro-distro.. (distro-distro?? Ada berapa distro sih di kota kecil semacam Nganjuk? Perasaan cuma dua deh… mana nggak begitu laku lagi). Biar anak-anak gaul pada terpengaruh dan berpindah haluan ke manual art. Kalau nggak ada yang nglirik, aku sendiri aja yang nglirik. Siapa tahu anak-anak gaul itu sebenarnya pengen nglirik, tapi isin. Trus, aku akan memuji sepedaku sendiri dengan ekspresi secukupnya. Yang penting bisa menarik anak-anak gaul lainnya supaya ngeliat. Hehehe… kalau tetep nggak ada yang liat, waah.. musti pindah ke perko (emperan toko), atau ke pasar Wage aja. Hehehe… soalnya distro mungkin buat anak-anak orang kaya kali. Atau anak sederhana yang pengen dianggap kaya!

Ndop, apa u nggak malu pakek sepeda mengilap seperti itu?? Mana mengilapnya pakek cet kayu lagi?? Yee… kenapa harus malu. Justru yang jarang ada seperti ini yang bikin bangga. Aku khan ngecetnya nggak asal. Tetep musti rata dan halus. Lumayan susah sih, soalnya musti mbalen-mbaleni. Musti 2 lapis biar cetnya betul-betul rata. Jadi 2 kali kerja. Oh iya, kalau u kebetulan rumahnya Nganjuk kayak saya, ayoh sepedahan bareng. Sekarang Nganjuk ngetren lo pakek sepeda. Kayaknya pada pingin nyelametin bumi dari global warming ya?? Bagus itu. That’s my obsession too. Main aja ke rumahku Jl. HOS Cokro Aminoto III/16 Kauman Nganjuk. Aku sangat kesepian untuk urusan sepeda bersepeda. Hihihi….

7 Comments

Komen dong!