ANAK AYAM

“Piyik, piyik…” suara merintih berulang-ulang yang keluar dari ayam kecilku sangat menggugahku untuk segera meraihnya dan memindahkannya ke tempat semula. Ayam kecil itu tinggal di sebuah kardus mie instan yang sekarang sudah penuh. Penuh dengan jibrat e’e nya sendiri. Hehehe… heran, betah banget dia tinggal di situ??? Ye… namanya aja ayam.

Ayam kecilku itu baru berumur beberapa minggu. Belum ada sebulan. Tapi dia sudah bisa ngapa-ngapain. Bisa cari makan sendiri, minum sendiri. Eh, minumnya lucu lo, dia sedot airnya pake cucuknya yang mungil, kemudian dia mengangkat kepalanya ke atas biar airnya mengalir ke dalam perutnya sambil merem-merem menghayati. Kalau aku mendekatinya, dia suka pamer kemampuan. Yang berlari-lari, yang menyeker-nyeker, padahal nggak ada yang bisa diceker. Lawong nggak ada tanahnya kok diceker-ceker toh. Kalau ibukku sedang napeni beras. Dia selalu asyik berada di bawahnya sambil nutuli gogrokan beras yang jatuh ke bawah. Favoritnya sih kulit gabah. Sambil berpiyik-piyik, dia berjalan-jalan berputar kesana kemari sambil nutuli kulit gabah. Sesekali dia keluar arena untuk mencari kerikil untuk pencernaannya.

Bulu ayamnya sudah keluar sedikit di sayapnya. Dan sekarang dia sudah bisa terbang keluar dari kandang kardusnya. Alhasil, kalau terdengar suara piyik-piyik keras sekali, tandanya dia ucul dari kandangnya. Dan aku pun bergegas mengembalikannya ke tempat semula suapaya terhindar dari yang namanya kepidek. Soalnya dia memang sering mengikuti kemana kaki kita melangkah. Dan deket banget dengan posisi telapak kaki kita. Jadi sangat rawan keinjak. Jadi kalau aku pas diikuti, cara jalanku pun tak seret, sambil tetep melihat ke bawah, supaya dia tetep berada di samping kakiku, bukan di bawahnya.

Kalau aku lagi gemes pengen megang, dia sangat manut dipegang. Bukan manut lagi, dia justru moro. Baru tanganku kuturunkan ke lantai, dia sudah berlarian mendekat. Segera aku mengangkatnya. Dan menaruhnya ke atas telapak tanganku yang kutekuk sedikit. Karena nyaman banget, dia biasanya tertidur. Pelan-pelan kepalanya menunduk. Cara meremnya beda dengan kita. Dia merem dengan kelopak mata bagian bawah. Mulutnya perpiyik-piyik lirik. Kadang aku pun terbawa dengan suasana, dan tertidur juga. Dan kamipun tidur bersama… hehehe… tapi bo’ong!!! Dia yang tidur sendirian. Betapa damainya dia. Aku bisa merasakan betapa dia dalam suasana yang nyaman banget berada di atas telapak tanganku yang hangat. Kalau sudah gitu, dia nelek pun aku nggak masalah. Paling tinggal membersihkan doang. Tapi dia tidak pernah nelek di tanganku untungnya.

Buat ayam kecilku, selamat menikmati hari-hari pertumbuhanmu. Aku akan sabar menunggu sampai kamu besar. Dan kalau sudah cukup umurmu nanti. Aku meminta kerelaanmu untuk menjadi santapan lezatku…. Hhmmm…. AJIIIB…AJIIIIB!!

Eh, tapi kok nggak tega ya….

Tags:,
5 Comments

Komen dong!