Keajaiban dalam Keterbatasan

Kukayuh Sepedaku lumayan cepat ke Gadung. Tempat di mana adikku bersekolah. Sepeda jengkiku lumayan berat juga. Karena membawa kurang lebih 110 Kg. yah, adikku denganku mungkin punya berat badan yang hampir sama. Bahkan mungkin adikku yang berusia 14 tahun lebih berat dariku.

Dari jauh sudah kelihatan pohon besar tidak tingi-tinggi amat berwarna abu-abu kecoklatan. Di mana pohon tersebut tidak ada sehelai daun pun di batangnya. Pohon itu memang bukan makluk hidup, tapi sengaja dibuat manusia untuk melambangkan sekolah itu. Bagai pohon yang tidak ada daunnya, yah begitulah kira-kira gambaran murid-murid yang ada di situ. Ada tuna rungu, tuna grahita, tuna wicara, namun tidak pernah saya temukan tuna netra. Dan lebih tidak saya temukan lagi tuna wisma ataupun tuna susila… wakakakaka… :D.

Entah kenapa pohon tanpa daun yang menjulang tinggi itu dijadikan lambang di Sekolah Luar Biasa Panti Kosala itu. Padahal menurutku, mereka, walaupun dalam keterbatasan fisik, mereka juga toh punya kemampuan yang menghasilkan. Seperti layaknya daun yang menghasilkan klorofil untuk memasak makanan pada tumbuhan (wuih, sok tahu banget lo Ndop!!). Setelah lulus dari sekolah itu, biasanya mereka akan di’kuliah’kan ketrampilan di Jawa Tengah. Entah membuat kerajinan, pertukangan, dll. Sehingga mereka juga mempunyai kesempatan yang sama seperti kita-kita yang ‘katanya’ normal fisik dan jiwanya ini (kecuali kowe Ndop!). Jadi jelas-jelas saya pribadi kurang setuju dijadikannya lambang pohon tanpa daun untuk SLB Panti Kosala Nganjuk. Di kota lain, aku belum tahu lambangnya sama apa tidak.

Aku sudah sampai di sekolah itu. Adikku yang berat tadi menyalamiku pake cium tangan segala. Waah.. aku jadi terharu dik! Tapi juga tersinggung… hehehe…berasa tua geto. Adikku lalu bergabung dengan mereka. Aku tidak langsung pulang. Sambil istirahat sejenak setelah menempuh perjalanan kurang lebih 5 kilo meter, kupandangi raut muka murid-murid di situ. Mereka sumringah. Mereka selalu senyum. Mereka hidup dengan begitu semangatnya. Bahkan aku pun terbawa semangat hidupnya yang menggebu-gebu. Dan pikiranku selama ini yang menganggap bahwa di SLB itu anak-anaknya nakal, usil, jijik, dll hilang seketika. Karena mereka-mereka was amazing you know! Mereka yang kita kira stress, agak gila atau gila beneran, ternyata mereka mempunyai semangat untuk hidup yang jauh-jauh melebihi kita. Buktinya mereka selalu riang gembira. Tidak punya beban yang seharusnya berat banget. Padahal mereka jelas-jelas tampak kasat mata adalah seorang yang cacat. Aku trus berfikir-fikir, bagaimana mereka bisa setegar itu? Bagaimana mereka bisa tahan terhadap gunjingan orang sekitar yang menyakitkan??

Asal lo tahu ya. Mereka hidup dengan sangat rukun. Saking rukunnya, aku selalu senyum melihat tingkah laku mereka ketika bersosialisasi. Dan tak jarang aku merasa kagum melihat mereka. Mereka yang tuna rungu misalnya, seperti kita ketahui, mereka jelas tidak bisa mendengarkan. Trus, komunikasinya gimana dong?? Khan nggak denger?? Yup, mereka menggunakan bahasa tubuh. Bukan hanya bahasa tangan lo.. mereka menggunakan seluruh anggota tubuhnya untuk berkomunikasi. Seperti menangis, selain dengan tangan, mereka harus dengan ekspresi seperti menangis. Begitu juga dengan marah, senang, dll. Jadi bahasa tubuhnya mengungkapkan perasaannya. Tidak ada yang menipu di sana. Karena akan kelihatan dari ekspresinya. Dan mereka sangat sensitif dengan ekspresi manusia. Karena itulah satu-satunya cara mereka berkomunikasi. Mungkin itu yang membuat mereka damai, senang, tanpa beban, semangat hidup yang menggebu-gebu, karena mereka selalu hidup di lingkungan mereka yang penuh dengan kejujuran.

pipi yang sekarang

Pipi yang sekarang

Entah dimasukkan kategori apa adikku di sana. Yang jelas dia sekelas ada kurang lebih 5 anak. Dan ketika melihat teman-teman adikku, aku sudah dapat menebak dari wajahnya yang hampir-hampir mirip itu, bahwa mereka tergolong IQ rendah. Bahasa kasarnya goblok! Tapi sebenarnya tidak untuk adikku. Karena adikku hanya malas bicara, tapi bukan tuna wicara. Adikku juga bukan tuna rungu, karena sukamusik apalagi dangdut koplo. Adikku juga bukan orang goblok, karena dia sering mengalahkanku main Winning 11. Bahkan sekarang dia mulai merambah komputer dengan main game Winning PS2, yang aku nggak paham sedikit pun mengenai game itu. (soalnya game-mu adalah Fighting Ndop! Hehehe… iyo)

Kumpulan foto pipi

Adikku begitu karena dulu ketika kecil, dia pernah ‘owah’ gara-gara suster yang kurang berpengalaman. Suster itu (eh, kok suster ya, kedengarannya syerem geto…) sedang menggendong adikku pake dua tangannya (yaiyyalah masa pake satu tangan!) yang waktu itu baru berumur yaah.. setahun kurang lah. Tiba-tiba adikku ngompol, dan karena kurang berpengalaman, si suster itu spontan jijik dan dia langsung saja melepas setengah badan adikku bagian bawah. Yaitu dari pinggang ke bawah. Jadi si suster hanya memegang adikku pada bagian lingkar dada. Alhasil tubuh adikku langsung menekuk ke bawah karena gaya grafitasi (ceille… ilmiah banget! Mana tulisannya salah lagi… yang bener gravitasi, pakek ‘v’)

Sejak kejadian itu, adikku langsung panas lamaaaa banget. Sehari-hari suhu badannya 39 derajat selsius. tidak pernah turun. Naik iya. Itu berlangsung selama 3 tahun. Bayangin!!! Bagaimana rasanya. Duit sudah keluar banyak, rumah sakit sudah semua dicoba. Akhirnya, adikku dibawa ke Kediri. Katanya di situ memang canggih. Yaa.. demi kesehatannya, si almarhum bapak pun rela berbuat apa aja.

Berobatlah adikku di Kediri, di RS Bhayangkara. Selama 40 hari. Dan hasilnya??? Nihil! Si dokter tidak tahu penyakit apa yang adikku derita. (yaiyyalah, Dok, adikku khan bukan kena penyakit, tapi gara-gara –yang kata orang jawa bilang– owah). Padahal ratusan obat sudah ditelan adikku selama berobat. Nah, mungkin gara-gara kebanyakan obat itu, adikku jadi sedikit aneh. Adikku juga sudah diambil cairan sumsumnya beberapa untuk mendiagnosis penyakitnya. Katanya itu langkah terakhir pendekteksian suatu penyakit. Karena si dokter tetep nggak bisa ngedeteksi penyakitnya, maka dipulangkanlah adikku ke rumah dalam keadaan masih panas. (Woalah dok-dok, paling pas dosen membahas penyakitnya adikku, dokter pas bolos kuliah kalleee)

Ada yang lucu ketika adikku pertama kali berobat. Si dokter mencabut beberapa helai rambut adikku. Dan… mak del, Puluhan rambut tipis itu terangkat dari kepala adikku. Dan apa yang terjadi? Adikku nggak merasakan apa-apa. Langsung deh, dokter itu tahu kalau adikku kurang gizi!! Mendengar diagnosa dokter, bapakku jelas tersinggung. Aku pun juga tersinggung kali, soalnya makanan di rumah kami walau sederhana tapi cukup memenuhi gizi sehari-hari. Ya memang karena adikku sendiri yang malas makan kali.

Dan keajaiban terjadi. Tanpa berobat kemana-mana, adikku sembuh dengan sendirinya seiring waktu berjalan. Dan seiring waktu juga adikku yang semula nggak doyan makan, jadi doyan. Bahkan semakin menggila selera makannya sampai sekarang. Makanya adikku lebih gemuk dari aku. Tapi ya itu, dia agak aneh. Bicaranya kedal, gak jelas. Lidahnya ke mana-mana kalau ngomong. Dan tempat favorit lidahnya adalah di pipi kanannya. Coba u ngomong dengan lidah berada di situ. Nah… begitulah adikku kalau ngomong. Gak jelas. Dia mungkin autis, tapi nggak juga soalnya dia suka bersosialisasi. Dia selalu menyapa setiap anak seumurannya yang lewat di depan rumahku. Apalagi, kalau anak itu anak gaul dengan pakean ala anak band. Pernah suatu ketika aku di sapa dengan mereka, aku pun bingung sendiri, siapa ya?? Eee… setelah kuinget-inget, ternyata mereka mengira aku adalah adikku yang selalu menyapa mereka. Hehehe…


Pipi ketika mulai beranjak sembuh dari panasnya…

Mempunyai adik sebenarnya bukan keinginanku. Dulu ketika kecil, aku betah banget dinaungi 4 orang kakak yang ngelindungi aku. Aku memang seperti raja, dimanja, disayang, dituruti segala permintaan. Sayang dulu aku hanya minta mainan robot-robotan. Hehehe… jadi aku menikmati banget menjadi anak bungsu. Alhasil ketika aku diberitahu kalau akan punya seorang adik, aku langsung yang, yaaah…

Tapi semua sudah terjadi dan harus aku terima. Menerima semua kekurangannya. Eeehh… jangan dikira adikku nggak punya kelebihan. Dia kalau urusan mencari-cari paling jago. Dia juga fokus. Buktinya kalau main geim winning dia sampek nggak denger dipanggil. Apalagi kalau sudah mendengarkan dangdut koplo. Waaah… tangannya langsung layaknya memainkan gendang. Dan dia mengikuti beatnya dengan benar.

Begitulah kira-kira postingan kali ini… semoga bermanfaat. Yang jelas kita harus pandai-pandai mengambil hikmah dari setiap kejadian yang kita alami, yang mereka alami, walau dari hal-hal yang mungkin hina sekalipun, semua pasti punya hikmah. Dan kali ini mungkin kita bisa mengambil hukmah dari seorang Pipi (panggilan adikku), yang mana dia dalam keterbatasan mental, tapi masih punya semangat hidup yang tinggi, pantang menyerah, dan selalu rukun dengan sesama. Kita, yang merasa lebih normal, seharusnya bisa lebih baik dari itu. Walau kadang justru kita bisa berbuat sesuatu yang lebih buruk dari hal terburuk yang pernah mereka (orang-orang cacat fisik & mental) lakukan.

:)

19 Comments

Komen dong!