Bersepeda Naik Gunung

Beberapa waktu yang lalu, tepatya pas tanggal 21 Oktober 2007, dan tepatnya lagi bodho ke-9, lebih tepatnya lagi adalah pas Acara Nasabi Keluarga Besar Bani Ibrahim (Keluarga besarku), aku malah mlencing ke Cepoko. Cepoko adalah daerah pegunungan Nganjuk dan lebih tinggi dari Kuncir.

Kok gak ikutan Nasabi, Ndop? Males, soalnya aku pengen di rumah aja.. (yeee… bo’ong, sebenarnya Ndopar malu kalau ditanya kuliahnya yang belum lulus-lulus, hehehe…). Dan karena selama puasa nggak naik gunung bersepeda, akhirnya pada hari itulah aku berangkat tanpa persiapan apa-apa. Pakek kao oblong yang sama ketika tidur tadi. Alias nggak pakek salin kaos segala. Soalnya, ketika kucium-cium sekitar lengannya, nggak ada bau ilerku. Hehehe… untung nggak ngiler.

Tapi itulah si Ndop. Penggila spontanitas ini memang males kalau pakek acara persiapan segala. Sepedanya yang sudah berumur 15 tahun itu juga luput dari pengecekan. Alhasil si Ndopar hanya mengandalkan doa bepergian saja. Si Ndop juga males pakek pamit-pamitan. Makanya kalau pulang selalu ditanyain,”Habis kemana?” si Ndop pun menjawab,”Cepoko!!”. Dan spontan juga si penanya kaget setengah mati. Melihat ekspresi kaget seperti itulah salah satu favorit Ndofar. Gila ya..

Seperti biasa si Ndopar berangkat sendirian. Dan menurutnya, sendirian kadang-kadang lebih menyenangkan dari pada rame-rame. Pikirannya cuma satu, nggak ada beban untuk orang lain maupun membebani orang lain. Tapi nggak enaknya, nggak ada yang bisa diajak ngobrol, selain pohon-pohon yang kulewati. Alhasil, menyanyi adalah kebiasaannya ketika sepedahan jauh. Dia lebih senang mendengarkan kesunyian alam di pagi hari, suara sapu korek, suara kicau burung, angin sepoi-sepoi dari pada mendengarkan MP3 player sebari bersepeda. Kalau MP3 player kan bisa didengarkan kapan saja dan lagunya itu-itu saja. Tapi kalau suara alam, waaah… tiap detik iramanya berbeda n it’s sounds unique.

Tolah-toleh melihat setiap orang yang kulewati. Melihat ekspresinya di pagi hari. Kalau mereka melihatku, akupun melihat yang lain. Soalnya malu aku diliatin. Lawong sisa-sisa tidur masih keliatan kok. Blobok, iler, kantong mata, masih terlihat jelas. Sehingga ketika aku diliatin, aku sibuk mencari-cari sesuatu di sekitar mata. Dan… kutemukan banyak blobok nangkring di sela-selanya.. nggilani Ndop!

Kiri-kiri-kiri… kanan-kanan-kanan… begitulah ritme ngontelku pas menanjak kurang ebih 30 derajat. Ilmu itu kupelajari selama bertahun-tahun. Kukembangkan sendiri, kupraktekan sendiri. Soalnya aku ngontelnya selalu sendiri. Hehehe… nafas juga begitu, kuatur sedemikian rupa supaya nggak ngos-ngosan. Ketika menanjak 2 kilometer tanpa henti itu, nafasku kupercepat kira-kira 4 nafas perdetik (kecepatan ya? Nggak kok, itu wajar kalau u memang sedang ngos-ngosan). Dengan analisaku sendiri bahwa udara atau oksigen sangat diperlukan untuk pembakaran dan hasil dari pembakaran itu kan energi…(yeee…sok tahu lo..). Jadi semakin cepat nafas kita, energi juga dapat semakin banyak. Untungnya udara di sana sangat sejuk dan bersih. Jadi nggak kerasa bunuh diri seperti ketika aku sepedahan di kota polusi Surabaya…

Seperti artis, aku pun tebar pesona dan diliatin orang-orang yang kulewati. Kebanyakan mereka terheran-heran. Soalnya aku nggak memakai pakaian ketat seperti klub-klub sepeda gunung itu. Karena setahu mereka, di sana tuh justru jarang yang pakek sepeda ontel. Kecuali anak SD. Itu pun aklau menanjak ya dituntun. Lha, aku lo, tanpa henti… genjot teruuus…!!! Eh, jangan dikira kalau di gunung itu sepi dan aman, justru sebaliknya, lumayan membahayakan bersepeda ke gunung yang mayoritas pengendaranya sepeda motor dan mobil. Soalnya selain jalannya sempit, kecepatan mereka mengendara gila-gilaan. Alhasil, kalau ada kecelakaan langsung ko’it alias matek! Makanya, selalu berdoa adalah obat yang manjur mengatasi kekhawatiranku…

Ketika sudah sampai Kuncir, seperti biasa aku istirahat di gubuk tipak bakul duren. Sampai kaki ini benar-benar relaks dan nafasku nggak ngos-ngosan lagi. Biasanya habis itu aku melihat kali Kuncir yang kayak Niagara Fall. Tapi sayangnya nggak ada airnya. Jadi pemandangannya kurang sip. Kebetulan aku bawa kamera digital silihan, waah… saatnya bernarsis-narsis ria nih, “cklek” “cklek”… “cepret”… walau diliatin oarng-orang yang lewat, aku tetep cuek, “cepret, cepret!!”

Jadi aku hanya diam saja di gubuk itu.. melihat dari kejauhan pemandangan sekitar. Eee… ketika melihat ke belakang, ada anak-anak kecil bermain gerobak. Mereka kayaknya seneng banget hanya dengan bermain gerobak saja. Yaudah, tanpa menunggu mereka selesai bermain, kujepret adegan mereka,”mak pret!!”, poto unik pun kudapat.


Dan ketika sudah relax dan fresh lagi, aku lanjutkan perjalanan naik gunungku. Kukayuh sepedaku yang berat soalnya emang langsung menanjak 30 derajat. Nggak ada acara ancang-ancang. Walaupun begitu, aku tetep aja kuat, soalnya udara gunung yang sejuk dan dingin sangat memanjakanku dan memberi kekuatan. Kiri-kiri… kanan-kanan… ritme ngontelku kuganti, soalnya kalau kiri tiga kanan tiga, akan lebih melelahkan. Seperti biasa, tolah-toleh kiri kanan.. eee…ada pemandangan bagus, “jepret”, hihihi… dapat gambar lumayan…

Ayo Ndop, sedikit lagi sampai Cepoko…. Emangnya ada apa di Cepoko?? Cepoko itu rumahnya morotuonya masku. Dan kebetulan masku tinggal di sana. Jadi kalau kelelahan aku selalu mampir. Tinggal menunggu beberapa menit setelah ketemu tuan rumah, the hangat akan datang secara otomatis. Kadang-kadang juga kopi panas. Walaupun aku nggak ngopi, kuminum aja…haus soalnya.. nggak enak juga udah dibuatin…

Wuih dukunya sudah banyak, tapi belum matang. Kayaknya asyik buat wallapaper bih. “ceklek”, dapet deh foto pohon duku… kira-kira sebulan lagi masak dan siap dikirm ke mall-mall di Surabaya dan Bali. Asal lo tahu, duku Cepoko itu kualitasnya paling bagus se Indonesia. Tapi memang duku Palembang lebih terkenal. Padahal, duku Palembang lah yang merusak harga duku yang sedang berlaku. Karena duku Palembang itu liar. Bukan duku yang dirawat. Jadi nggak ada pengeluaran sama sekali untuk mblongsong, ngrabuk, dll. Soalnya tinggal metik di hutan liar yang tidak terjamah manusia. Jadi hasilnya duku asal-asalan. Rasanya juga jelas-jelas jauh banget dengan duku lainnya, apalagi dengan duku Cepoko. Ngelip pol!!

Tak berapa lama setelah duduk-duduk istiro’at sambil meneguk kopi sampai habis, aku pun melanglang buana ke kali di belakang sana. Kalinya gedhe juga lo. Tak jauh aku berjalan menuju kali. Nggak ada 5 menit sudah sampai. Tapi itu pakek jangkahku yang semeter-semeter itu. Wahaha… Sebelum sampai kali, aku sempet melewati kebun salak, yang belum tahu pokon salak, jangan khawatir, aku sempet mengabadikannya kok. Di kali itu ada pohon yang unik banget. Kayak gurita yang sedang nangkring di batu kali yang gedhe-gedhe. Aku sempat mengabadikan pohon unik itu. Ini dia fotonya…


Walaupun masih musim kemarau, tapi airnya bening juga lo. Aku sempet raup-raup di sana. Batu kalinya juga gedhe-gedhe. Siip banget buat difoto nih. Dan naluri bernarsis ria pun muncul. “cklek” “cklek”. (-Loh, katanya sendirian, kok bisa motret seluruh badan?? Hayo… bohong ya… ??– dasar katrok, khan kamera digital ada timernya toh… yang 10 detik baru nyepret itu tuh…–)

Kemudian besoknya (ceritanya aku nginep. Soalnya sudah dua bulan nggak ke sana. Jadi puas-puasin deh), aku berpetualang lagi. Kali ini di sisi jalan yang satunya. Kalau kemarin di bagian kanan sekarang di kirinya. Secara jalannya emang bercabang dua.

Aku pun turun lagi menuju percabangan jalan. Wuih, jalannya ngglender kenceng banget. Untung rem sepeda lumayan pakem. Walau yang aktif cuma rem depan doang, tapi lumayan bisa meperlambat jalanku. Aku melewati pasar kecil. Di depan sana ada jembatan yang baru didandani. Soalnya tahun kemarin jebol kena hujan. Tapi sudah lumayan kok, walau masih pelan-pelan melewatinya. Ceille pakek sepeda mana ngefek, khan sepeda ringan banget, pakek pelan-pelan segala. Bo’ong ah.. eh, iya, memang bo’ong kok.. pelan-pelannya lebih karena jalannya yang nggrotal itu. Ya.. maklum lah sepeda tua, kasihan kalau dibuat ngetrack di jalanan nggrotal seperti ini. Walaupun begitu, aku tetep mengandalkan doa bepergian agar aku selalu diberi keselamatan. Eh, iya, ada yang janggal di sini. Menurut ceritanya masku, di dataran setinggi ini pernah kebanjiran lo. Sampai-sampai antara kali dengan daratan sama rata dengan air. Jadi nggak keliatan mana kali mana daratan. Jadinya konon banyak yang kecemplung mati masuk kali. Secara kalinya emang banyak batu besarnya. Mana kalinya dalam banget.

Ternyata di sisi ini pemandangannya lain. Tapi nggak kalah bagus dengan sisi satunya. Di sini menawarkan pemandangan pohon jati (kayaknya jati) yang berjejer rapi di kiri. Dan sebelah kanan menghampar sawah hijau dan juga ada sedikit pohon jati yang masih beibi. Jalannya masih sepi soalnya emang masih pagi banget. So, anak-anak sekolah masih belum muncul berseliweran. Suasana di sini ancient banget dan keren. Batu-batunya berwarna hitam. Pasirnya juga hitam. Kayaknya aku sendirian deh. Hiii…..

Terdengar suara lamat-lamat di bawah sana, kayaknya suara petani sedang ngobrol dengan temannya. Selain itu nggak ada suara sama sekali. Sunyi banget. Tapi nyaman. Tapi lama-lama menakutkan juga. Jangan-jangan ada perampok yang sedang mengintaiku. Alhasil akupun tak jarang menengok ke belakang, ke samping kiri, kanan. Tolah-toleh paranoid gitu deh. Tapi setelah kupikir-pikir, kenapa musti takut? Wong aku nggak ada tampang kaya. Wajah? Katrok. Duit? Nggak bawa. Dompet? Juga nggak bawa. HP? Nggak bawa juga. Cuma bawa kamera digital doang pokoknya. Woalah Ndop-Ndop, mosok gak nggowo opo-opo to? Beneran, suweerrr!!! Namanya aja nggak ada persiapan. Dasar gila!!

Banyak sekali batu-batu besar berwana hitam di sebelah kiri. Aku pun tak mau melewatkan begitu saja. Kusiapkan kameraku, kusetting timingnya. Kuletakkan di tempat yang datar. Kupencet tombolnya. Aku pun berlari kecil menuju tempat yang akan kubidik. Dan cheers… “jepret!!”

Matahari ternyata sudah mulai menampakkan diri. Di sebelah kiri terlihat banget sinarnya yang kuning. Aku pun tak mau melewatkan pemandangan ini. Lagi-lagi naluri narsis datang lagi. “Cepret!! Cepret!!” bersama batu pun oke..


Lalu kulanjutkan perjalanan ke atas sana. Dan kutemukan pohon tanpa daun yang keren banget. Busyet!! Artistik banget… aku pun mulai mencari tempat yang pas untuk membidik pohon itu tanpa terkecuali aku. Hehehe.. tetep narsis. Akhirnya kutemukan tempat yang cocok. Di mana aku bisa duduk santai, sementara si pohon tanpa daun itu pun bisa terjepret dengan indah. “cpret!!”


Matahari terbit ternyata keren juga ya, nggak kalah dengan matahari terbenam. Apalagi di gunung seperti ini. Bayangan gunung terlihat di bawahnya. Wow!! That was amazing!!
Aku juga menemukan pohon kaktus (kaktus atau bukan ya? pokoknya ada durinya) yang tumbuh liar di sana. Aku pun berphoto ria di sebelahnya, “jepret!”

Susahnya sendirian adalah, kita nggak bisa bebas menentukan angle-nya, soalnya meletakkan kameranya yang susah. Kalau ada yang megangin, itu bedha lagi. Di sini nggak ada yang megang. Jadi harus diletakkan di atas sesuatu, entah datar atau tidak. Jadi sangat hati-hati banget meletakkannya, biar nggak jatoh.


Setelah banyak banget yang lewat jalan itu, karena memang sudah jamnya sekolah. Aku pun kembali dengan membawa dokumentary berupa foto-foto. Dengan muka sumringah aku menuruni jalan terjal itu. Tangan kanan menekan rem pelan-pelan, tangan kiri nganggur, kaki juga nganggur, otak berputar keras soalnya jalannya medeni. Sepedaku meluncur kenceng…. Wuiiii…. Rambutku terkena angin ke belakang… wesss…..

Dan berpetualangku pun selesai. Siangnya aku diajak masku melihat orang mblongsong duku. Lalu sorenya diajak jalan-jalan lagi nyelepno beras di atas sana. Ternyata di lokasi penyelepan, panoramanya nguzubille keren banget. Sementara masku menyelepkan berasnya. Aku sibuk sendiri foto-foto dengan alam yang warnanya hijau itu. Nih dia fotonya….

15 Comments

Komen dong!